Custom Search

Wednesday, September 30, 2009

Sekilas Tentang Seni Dan Tradisi
Language : Inggris

Bangsa Lampung memiliki ragam kesenian yang kaya akan keragaman, keindahan dan keanggunan budaya. Tarian yang dibawakan oleh Muli Meghanai Lampung memiliki ciri khas gerak serta langgam tersendiri. Tarian klasik yang diselenggarakan pada saat upacara kerajaan adalah suatu bentuk tarian yang dikenal dengan nama Tarakot Kataki atau Lalayang Kasiwan yang masing masing diperagakan oleh dua belas Meghanai secara bersama sama sebagian memegang kipas dan sebagian lagi tidak memegang kipas.

Ragam tarian lain adalah Tari Tanggai yang ditampilkan oleh satu, dua, atau empat orang Muli yang masing masing memegang kipas. Didalam membawakan Tari Tanggai para Muli ini menggunakan aksesoris berupa kuku kuku panjang yang terbuat dari perak yang dipasang diujung jari para penari. Tari tersebut diiringi oleh irama Gamulan/Kulintang dengan ditingkahi para Meghanai yang membawakan bait tertentu yang dinamakan Ngadidang.

Dalam sepuluh hari didalam bulan Syawal diadakan Sekuraan yaitu Festival Topeng yang diselenggarakan sebagai ungkapan suka cita setelah sebulan penuh berpuasa dan mendapatkan Hari Kemenangan. Sekuraan ini diadakan dibeberapa Pekon di Sekala Brak dengan berbagai suguhan Kesenian seperti Silek, Muwayak, Hadra, dan Nyambai oleh para Sekura.

Ada dua tipe Sekura yaitu Sekura Helau yang melambangkan kebajikan dan kebijaksanaan dan Sekura Kamak yang melambangkan Ketamakan dan Keangkaramurkaan. Sekura Helau mengenakan kostum yang indah dan bagus seperti bawahan yang mengenakan kain yang bermotifkan Tapis dan atasan yang mengenakan Kain Panjang, sedangkan Sekura Kamak mengenakan Topeng yang menyeramkan dan kostum yang kebanyakan berwarna hitam hitam.
Setiap sehari sebelum Idul Fitri dan Idul Adha ada tradisi Ngelemang pada Paksi Paksi di Sekala Brak terutama di Paksi Buay Bejalan Di Way, ada beberapa jenis Lemang seperti Lemang Siwok yang terbuat dari ketan, Lemang Bungking yang terbuat dari ketan–pisang, dan Lemang Ceghughut yang terbuat dari ketan–gula merah. Tradisi ini sebenarnya adalah tradisi lanjutan seperti yang berlaku di daerah Minangkabau.

Bangsa Lampung dikenal memiliki kain tenun yang indah dan anggun yang dikenal dengan Kain Tapis. Tapis adalah kain yang agung dan sakral yang pada mulanya hanya dikenakan oleh Para Saibatin dan keluarganya saja terutama dikenakan dalam Gawi dan Upacara adat. Namun dalam perkembangannya Kain Tapis telah diproduksi secara massal sehingga setiap khalayak dapat berkesempatan untuk memiliki dan mengenakannya.

Saat ini Kain Tapis telah dikomersialkan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan telah melanglangbuana hingga ke mancanegara. Kini Kain Tapis telah mengalami perkembangannya hingga semakin variatif dengan berbagai macam bentuk dan telah merambah dunia fasion seperti pakaian dan aksesoris aksesoris yang bermotifkan Tapis.
.
Sastra lisan

Sastra lisan Lampung menjadi milik kolektif suku Lampung. Ciri utamanya kelisanan, anonim, dan lekat dengan kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung.

Sastra Lampung adalah sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Sastra Lampung memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantera, pantun, syair, dan cerita rakyat
Jenis sastra lisan Lampung

A. Effendi Sanusi (1996) membagi lima jenis sastra tradisi lisan Lampung: peribahasa, teka-teki, mantera, puisi, dan cerita rakyat.

Sesikun/sekiman (peribahasa)
Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.

Seganing/teteduhan (teka-teki)
Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.

Memmang (mantra)
Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.

Warahan (cerita rakyat)
Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-mata fiksi.

Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.

Bentuk-bentuk puisi lisan Lampung
Berdasarkan fungsinya, ada lima macam puisi dalam khasanah sastra tradisi lisan Lampung: paradinei/paghadini, pepaccur/pepaccogh/wawancan, pattun/segata/adi-adi, bebandung, dan ringget/pisaan/dadi/highing-highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang.

Paradinei/paghadini
Paradinei/paghadini adalah puisi tradisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat. Paradinei/paghadini diucapkan jurubicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan.

Contoh:
Jak banding sikam jinna
Lupa mak singgah jondong
Kubimbing niku jinna
Mukhawan niku khatong
Mawat kutattak lada
kammak jukuk ni lamon
Mawat kubuka cawa
kammak cawa sai temmon
Si gisting nangun mikhing
jalan berliku liku
Najin dunia giccing
bacak sapai di niku

Pepaccur/pepaccogh/wawancan
Pepaccur/pepaccogh/wawancan adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok (gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan/tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pemberian adok (gelar adat) dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah butetah atau istilah lainnnya, ngamai dan nginai adek, ngamai ghik ngini adok, dan kabaghan adok atau nguwaghko adok.

Pattun/Segata/Adi-Adi
Pantun/segata/adi-adi adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek.

Contoh pattun/segata:
Bukundang Kalah Sahing
Numpang pai nanom peghing
Titanom banjagh capa
Numpang pai ngulih-ulih
Jama kutti sai dija
Adek kesaka dija
Kuliak nambi dibbi
Adek gelagh ni sapa
Nyin mubangik ngughau ni
Budaghak dipa dinyak
Pullan tuha mak lagi
Bukundang dipa dinyak
Anak tuha mak lagi
Payu uy mulang pai uy
Dang saka ga di huma
Manuk disayang kenuy
Layau kimak tigaga
Nyilok silok di lawok
Lentera di balimbing
Najin ghalang kupenok
Kidang ghisok kubimbing
Kusassat ghelom selom
Asal putungga batu
Kusassat ghelom pedom
Asal putungga niku
Kughatopkon mak ghattop
Kayu dunggak pumatang
Pedom nyak sanga silop
Min pitu minjak miwang
Indani ghaddak minyak
Titanom di cenggighing
Musakik kik injuk nyak
Bukundang kalah sahing
Musaka ya gila wat
Ki temon ni peghhati
Ya gila sangon mawat
Niku masangkon budi
Ali-ali di jaghi kiri
Gelang di culuk kanan
Mahap sunyin di kutti
Ki salah dang sayahan
Terjemahannya:
Pacaran Kalah Saingan
Numpang menanam bambu
Ditanam dekat capa
Numpang bertanya
Kepada kalian di sini
Adik kapan kemari
Kulihat kemarin sore
Nama adik siapa
Agar enak memanggilnya
Berladang dimana aku
Hutan tua tiada lagi
Pacaran dengan siapa aku
Anak tua tiada lagi
Ya uy pulang dulu uy
Jangan lama-lama di ladang
Ayam disayang elang
Kacau kalau tak dicegah
Melihat-lihat di laut
Lentera di balimbing
Walau jarang kulihat
Tapi sering kuucap
Kucari ke dasar gelap
Asal bersua batu
Kucari hingga ke tidur
Asal bersua denganmu
Kurebahkan tak rebah
Kayu di ujung pematang
Sejenak aku tertidur
Tujuh kali terbangun menangis
Layaknya ghaddak minyak*
Ditanam di lereng bukit
Betapa derita kurasakan
Pacaran kalah saingan
Sudah lama sebenanya ada
Kalau memang lebih perhatian
Ya memang tidak
Kau menanam budi
Cincin di jari kiri
Gelang di kaki kanan
Maaf semuanya kepada kalian
Kalau salah jangan mengejek
• nama pohon untuk pelindung tanaman kopi

Bebandung
Bubandung adalah puisi tradisi Lampung yang berisi pertuah-petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam.

Ringget/Pisaan
Ringget/pisaan/dadi/highing-highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai.

Sumber : www.id.wikipedia.org.

Read More......

Falsafah dan Pedoman Hidup Ulun Lampung
Language : Inggris

Tandani Ulun Lampung Wat Piil-Pusanggiri Mulia Hina Sehitung Wat Liom Rega Diri Juluq-Adoq Ram Pegung, Nemui-Nyimah Muari Nengah-Nyampor Mak Ngungkung, Sakai-Sambayan Gawi.

Falsafah Hidup Ulun Lampung tersebut diilustrasikan dengan lima bunga penghias Sigor pada lambang Propinsi Lampung. Menurut kitab Kuntara Raja Niti, Ulun Lampung haruslah memiliki Lima Falsafah Hidup:

1. Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri),
2. Juluq-Adoq (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya),
3. Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi, selalu mempererat persaudaraan serta ramah menerima tamu),
4. Nengah-Nyampor (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis),
5. Sakai-Sambayan (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Tujuh Pedoman Hidup Ulun Lampung:

1. Berani menghadapi tantangan: mak nyerai ki mak karai, mak nyedor ki mak bador.
2. Teguh pendirian: ratong banjir mak kisir, ratong barak mak kirak.
3. Tekun dalam meraih cita-cita: asal mak lesa tilah ya pegai, asal mak jera tilah ya kelai.
4. Memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama: pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih.
5. Hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan: wat andah wat padah, repa ulah riya ulih.
6. Mengutamakan persatuan dan kekompakan: dang langkang dang nyapang, mari pekon mak ranggang, dang pungah dang lucah, mari pekon mak belah.
7. Arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah: wayni dang rubok, iwani dapok.

Sumber
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com

Read More......

Aksara, Bahasa dan Dialek Lampung
Language : Inggris

Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Had Lampung diciptakan oleh Para Saibatin di Paksi Pak Sekala Brak pada awal Abad Ke 9. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan Aksara Rencong Aceh, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api, yang dipertuturkan oleh sebagian besar Etnis Lampung yang masih memegang teguh Garis Adat dan Aturan Saibatin dan Dialek Nyow, yang dipertuturkan oleh orang Abung dan Tulang Bawang yang mengenal kenaikan Pangkat Adat dengan Kompensasi Tertentu yang berkembang setelah Seba yang dilakukan oleh Orang Abung ke Banten.

A. Dialek Belalau (Dialek Api), terbagi menjadi:

1. Bahasa Lampung Logat Belalau dengan tambahan spesifikasi Logat Kembahang dan Logat Sukau, Dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan Balik Bukit, Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong dan Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak dan Pulau Panggung. Kota Bandar Lampung di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong, Salatuhur dan Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.

2. Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan oleh Etnis Lampung di Pesisir Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan Ngaras.

3. Bahasa Lampung Logat Melinting dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Timur di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung dan Kecamatan Way Jepara.

4. Bahasa Lampung Logat Way Kanan dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way Kanan yakni di Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.

5. Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di Natar, Gedung Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton, Sukarame dan Tanjung Karang Barat.

6. Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan Etnis Lampung yang Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.

7. Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat Komring dipertuturkan oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua, Martapura, Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Propinsi Sumatera Selatan.

B. Dialek Abung (Dialek Nyow), terbagi menjadi:

1. Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan Etnis Lampung yang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah di Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di Kecamatan Sukadana, Metro Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara. Kota Metro di Kecamatan Metro Raya dan Bantul. Kota Bandar Lampung di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu.

2. Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang meliputi Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang dan Gedung Aji.

Aksara Lampung

sara lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.

Sumber
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com

Read More......

Pembagian Wilayah Lampung Berdasarkan Way
Language : Inggris

Masyarakat Lampung hidup teratur dengan berpegang kepada norma dan adat perniti baik yang tertulis dalam huruf Lampung Kuno maupun secara lisan secara turun temurun. Kehidupan kemasyarakatan diatur dengan sistem kekerabatan yang bersifat Genealogis Patrilineal dimana pemerintahan dilakukan secara adat terutama yang mengatur sistem mata pencaharian hidup, sistem kekerabatan, kehidupan sosial dan budaya.

Secara Harfiah Buway (Bu-Way) berarti pemilik air atau pemilik daerah kekuasaan berdasarkan daerah aliran air atau sungai (Diandra Natakembahang:2005). Pembagian daerah dan wilayah berdasarkan sungai sungai atau way yang ada di Lampung sehingga menjadi beberapa Marga Atau Buway, pembagian ini dimaksudkan agar tidak terjadi perselisihan antar marga atau kebuayan. Pembagian wilayah ini diatur oleh Umpu Bejalan Di Way.

A. Wilayah Kekuasaan Kepaksian inti Paksi Pak Sekala Brak:

1. Way Selalau
2. Way Belunguh
3. Way Kenali
4. Way Kamal
5. Way Kandang Besi
6. Way Semuong
7. Way Sukau
8. Way Ranau
9. Way Liwa
10. Way Krui
11. Way Semaka
12. Way Tutung
13. Way Jelai
14. Way Benawang
15. Way Ngarip
16. Way Wonosobo
17. Way Ilahan
18. Way Kawor Gading
19. Way Haru
20. Way Tanjung Kejang
21. Way Tanjung Setia

B. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Melinting:

1. Way Meringgai
2. Way Kalianda
3. Way Harong
4. Way Palas
5. Way Jabung
6. Way Tulung Pasik
7. Way Jepara
8. Way Kambas
9. Way Ketapang
10. Way Limau
11. Way Badak
12. Way Pertiwi
13. Way Putih Doh
14. Way Kedondong
15. Way Bandar Pasir
16. Way Punduh
17. Way Pidada
18. Way Batu Regak
19. Way Berak
20. Way Kelumbayan
21. Way Peniangan

C. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Pubiyan Telu Suku:

1. Way Pubiyan
2. Way Tebu
3. Way Ratai
4. Way Seputih
5. Way Balau
6. Way Penindingan
7. Way Semah
8. Way Salak Berak
9. Way Kupang Teba
10. Way Bulok
11. Way Latayan
12. Way Waya
13. Way Samang
14. Way Layap
15. Way Pengubuan
16. Way Sungi Sengok
17. Way Peraduan
18. Way Batu Betangkup
19. Way Selom
20. Way Heni.
21. Way Naningan

D. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Sungkay Bunga Mayang:

1. Way Sungkay
2. Way Malinai
3. Way Tapus
4. Way Tapus
5. Way Ulok Buntok
6. Way Tapal Badak
7. Way Kujau
8. Way Surang
9. Way Kistang
10. Way Raman Gunung
11. Way Rantau Tijang
12. Way Tulung Selasih
13. Way Tulung Biuk
14. Way Tulung Maus
15. Way Tulung Cercah
16. Way Tulung Hinduk
17. Way Tulung Mengundang
18. Way Kubu Hitu
19. Way Pengacaran
20. Way Cercah
21. Way Pematang Hening

E. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Buay Lima Way Kanan:

1. Way Umpu
2. Way Besay
3. Way Jelabat
4. Way Sunsang
5. Way Putih Kanan
6. Way Pengubuan Kanan
7. Way Giham
8. Way Petay
9. Way Hitam
10. Way Dingin
11. Way Napalan
12. Way Gilas
13. Way Bujuk
14. Way Tuba
15. Way Baru
16. Way Tenong
17. Way Kistang
18. Way Panting Kelikik
19. Way Kabau
20. Way Kelom
21. Way Peti

F. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Abung Siwo Mego:

1. Way Abung
2. Way Melan
3. Way Sesau
4. Way Kunyaian
5. Way Sabu
6. Way Kulur
7. Way Kumpa
8. Way Bangik
9. Way Babak
10. Way Tulung Balak
11. Way Galing
12. Way Cepus
13. Way Muara Toping
14. Way Terusan Nunyai
15. Way Pematang Hening
16. Way Banyu Urip
17. Way Candi Sungi
18. Way Tulung Biuk
19. Way Tulung Pius
20. Way Umban
21. Way Guring

G. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Mego Pak Tulang Bawang:

1. Way Rarem
2. Way Gedong Aji
3. Way Penumangan
4. Way Panaragan
5. Way Kibang
6. Way Ujung Gunung
7. Way Nunyik
8. Way Lebuh Dalom
9. Way Gunung Tukang
10. Way Pagar Dewa
11. Way Rawa Panjang
12. Way Rawa Cokor
13. Way Tulung Belida
14. Way Karta
15. Way Gunung Katun
16. Way Malai
17. Way Krisi

H. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Komering:

1. Way Komering
2. Beserta anak sungainya

Sumber :
• www.tulangbawang.go.id.
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com

Read More......

Hirarki Adat dalam Kepaksian
Language : Inggris

Seperti telah diterangkan terdahulu Pepadun dibuat dari Belasa Kepampang yang dibuat sedemikian rupa menjadi singgasana tempat bertahtanya Raja yang dinobatkan di Paksi Pak Sekala Brak. Ketetapan adat bahwa hanya keturunan yang lurus dan tersulung dari Paksi Pak Sekala Brak yang berhak untuk dapat duduk diatas Pepadun itu dalam gawi penobatan Raja sebagai Saibatin. Dengan demikian adat Pepadun seperti yang terdapat di daerah Lampung lainnya tidak seperti daerah asalnya di Sekala Brak.

Pertimbangan untuk menaikkan atau menurunkan pangkat adat seseorang dilakukan dalam permufakatan sidang adat dengan memperhatikan kesetiaan seseorang kepada garis dan aturan adat. Jika seseorang dinilai telah memenuhi syarat dan mematuhi garis, ketentuan dan aturan adat, untuk seterusnya keturunannya dapat dipertimbangkan untuk dinaikkan setingkat pangkat adatnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya kemungkinan untuk keturunannya pangkat adat itu tetap atau bahkan diturunkan.

Pertimbangan yang kedua untuk menaikkan pangkat adat seseorang adalah dengan melihat jumlah bawahan dari seseorang yang akan dinaikkan pangkat adatnya. Seseorang yang yang menyandang pangkat adat atau Gelaran yang disebut ADOK harus memiliki bawahan yang berbanding dengan kedudukan pangkat adatnya.

Tingkatan tertinggi dalam adat adalah Saibatin Suntan. Untuk dapat mencapai Gelaran atau Adok dan kedudukan atau pangkat adat ditentukan oleh berapa banyak bawahan atau pengikut dari seseorang. Hirarki Adat dalam Kepaksian Sekala Brak dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah:

1. Suttan
2. Raja
3. Batin
4. Radin
5. Minak
6. Kemas
7. Mas

Petutughan atau panggilan dalam Masyarakat Adat Lampung adalah berdasarkan hirarki seseorang didalam adat. Untuk panggilan kakak adalah Pun dan Ghatu untuk Suntan, Atin untuk Raja, Udo Dang dan Cik Wo untuk Batin, Udo dan Wo untuk Radin, Udo Ngah dan Cik Ngah untuk Minak, Abang dan Ngah untuk Mas serta kakak untuk Kemas. Sedangkan panggilan untuk orang tua adalah Akan dan Ina Dalom untuk Suntan, Aki dan Ina Batin untuk Raja, Ayah dan Ina Batin untuk Batin sedangkan untuk Radin, Mas dan Kimas menggunakan panggilan Mak dan Bak. Panggilan kepada setingkat panggilan orang tua seperti paman dan bibi adalah; Pak Dalom dan Ina Dalom untuk Suntan, Pak Batin dan Ina Batin untuk Raja, Tuan Tengah- dan Cik Tengah untuk Batin, Pak Balak dan Ina Balak untuk Radin, Pak Ngah dan Mak Ngah untuk Minak, Pak Lunik dan Ina Lunik untuk Mas serta Pak Cik dan Mak Cik untuk Kemas. Panggilan untuk kakek-nenek adalah Tamong Dalom dan Kajong Dalom untuk setingkat Suntan, Tamong Batin dan Kajong Batin untuk setingkat Raja dan Batin sedangkan untuk Radin, Minak, Mas dan Kemas menggunakan panggilan Tamong dan Kajong saja.

Gelaran atau Adok -DALOM, SUNTAN, RAJA, RATU, panggilan seperti PUN dan SAIBATIN serta nama LAMBAN GEDUNG hanya diperuntukkan bagi Saibatin dan keluarganya dan dilarang dipakai oleh orang lain. Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli Pangkat Adat, baik dengan Cakak Pepadun atau dengan cara cara lainnya terutama di dataran Skala Brak sebagai warisan resmi dari kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.

Tentang kepangkatan seseorang dalam adat tidaklah dapat dinilai dari materi dan kekuatan yang dapat menaikkan kedudukan seseorang didalam lingkungan adat, melainkan ditentukan oleh asal, akhlak dan banyaknya pengikut seseorang dalam lingkungan adat. Bilamana ketiganya terpenuhi maka kedudukan seseorang didalam adat tidak perlu dibeli dengan harta benda atau diminta dan akan dianugerahkan dengan sendirinya.

Kesempatan untuk menaikkan kedudukan seseorang didalam adat dapat pula dilaksanakan pada acara Nayuh atau Pernikahan, Khitanan dan lain lain. Pengumuman untuk Kenaikan Pangkat ini, dilaksanakan dengan upacara yang lazim menurut adat diantara khalayak dengan penuh khidmat diiringi alunan bunyi Canang disertai bahasa Perwatin yang halus dan memiliki arti yang dalam.

Bahasa Perwatin adalah ragam bahasa yang teratur, tersusun yang berkaitan dengan indah dan senantiasa memiliki makna yang anggun, ragam bahasa ini lazim digunakan dilingkungan adat dan terhadap orang yang dituakan atau dihormati. Sedangkan Bahasa Merwatin adalah ragam bahasa pasaran yang biasa digunakan sehari hari yang dalam perkembangannya banyak dipengaruhi oleh bahasa bahasa lain.

Prosesi kenaikan seseorang didalam adat dihadiri oleh Saibatin Suntan atau Perwakilan yang ditunjuk beserta para Saibatin dan Pembesar lainnya. Dari rangkaian kata kata dalam bentuk syair dapat disimak ungkapan “Canang Sai Pungguk Ghayu Ya Mibogh Di Dunia Sapa Ngeliak Ya Nigham Sapa Nengis Ya Hila”

Terjemahannya bebasnya bermakna “Bunyi Gong Laksana Suara Pungguk Yang Syahdu Merayu, Gemanya Terdengar Keseluruh Dunia, Siapa Yang Melihat Ia Terkesima Dan Rindu, Siapa Yang Mendengarnya Ia Akan Terharu”. Ini bermakna bahwa pengumuman kenaikan kedudukan seseorang didalam adat telah diumumkan secara resmi.

Tentang adanya penggunaan Pepadun di daerah Lampung lainnya dimana kedudukan didalam adat itu dapat dibeli atau menaikkan kedudukan didalam adat dengan mengadakan Bimbang Besar. Cakak Pepadun di wilayah ini dapat dianalisa awal pelaksanaannya sebagai berikut –Warga Negeri yang memiliki hubungan genealogis dari salah satu Paksi Pak Sekala Brak dan beberapa kelompok pendatang dari daerah lain yang menempati wilayah yang baru ini tentu jauh dari pengaruh Saibatin serta Garis, Peraturan, dan Ketentuan adat yang berlaku dan mengikat.

Ditempat yang baru ini tentu dengan sendirinya harus ada Pemimpin dan Panutan yang ditaati oleh kelompok kelompok ditempat baru itu untuk membentuk suatu komunitas baru dan orang yang dipilih sebagai Pimpinan Komunitas ini dipastikan orang yang meiliki kekayaan dan kekuatan untuk dapat melindungi komunitasnya. Karenanya pada daerah Lampung tertentu dapat saja seseorang yang tidak memiliki trah bangsawan mengangkat dirinya menjadi pemimpin atau kepala adat dengan kompensasi tertentu.

Cara cara pengangkatan diri ini mengambil contoh penobatan Saibatin Raja dari daerah asalnya Paksi Pak Sekala Brak, pada masa berikutnya peristiwa Cakak Pepadun telah menjadi kebiasaan dan diteruskan sampai sekarang. Di wilayah baru ini rupanya tidak ada larangan tentang Pangkat Adat dengan melihat kenyataan yang ada bahwa Gelaran Gelaran atau Adok yang Sakral dan dipegang teguh di Paksi Pak Sekala Brak ternyata bahkan menjadi suatu gelaran umum di daerah ini.

Setelah soal naik Pepadun dengan tidak ada dasar ini menjadi suatu perlombaan yang hebat dikalangan khalayak, kesempatan ini digunakan oleh pasa penyimbang untuk mencari kekayaan dan setelah itu meningkat sedemikian rupa hingga mendatangkan kerugian yang besar bagi khalayak didalam mengadakan Bimbang Besar. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda dengan memfasilitasi tindakan tindakan kearah ini.

Pada zaman imperialis hal ini dimanfaatkan oleh kaum imperialis dengan memecah belah Bangsa Lampung sehingga perbedaan yang ada digunakan sebagai umpan untuk memperuncing pertentangan diantara Bangsa Lampung sendiri terutama didalam Adat. Belanda menggantikan kedudukan Raja dengan kedudukan sebagai Pesirah. Bentuk pemerintahan yang tadinya dijalankan dalam tatanan kemurnian dan keluhuran Adat perlahan diarahkan untuk mengikuti kepentingan Belanda.

Sumber :
• www.lampungtengah.go.id.
• www.tulangbawang.go.id.
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com

Read More......

Kerajaan Tulang Bawang
Language : Inggris

1. Sejarah
Kerajaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Tidak banyak catatan sejarah yang mengungkap fakta tentang kerajaan ini. Sebab, ketika Che-Li-P‘o Chie (Kerajaan Sriwijaya) berkembang, nama dan kebesaran Kerajaan Tulang Bawang justru pudar. Menurut catatan Tiongkok kuno, sekitar pertengahan abad ke-4 pernah ada seorang Bhiksu dan peziarah bernama Fa-Hien (337-422), ketika melakukan pelayaran ke India dan Srilangka, terdampar dan pernah singgah di sebuah kerajaan bernama To-Lang P‘o-Hwang (Tulang Bawang), tepatnya di pedalaman Chrqse (Sumatera).

Sumber lain menyebutkan bahwa ada seorang pujangga Tiongkok bernama I-Tsing yang pernah singgah di Swarna Dwipa (Sumatera). Tempat yang disinggahinya ternyata merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya. Ketika itu, ia sempat melihat daerah bernama Selapon. Ia kemudian memberi nama daerah itu dengan istilah Tola P‘ohwang. Sebutan Tola P‘ohwang diambil dari ejaan Sela-pun. Untuk mengejanya, kata ini di lidah sang pujangga menjadi berbunyi so-la-po-un. Orang China umumnya berasal dari daerah Ke‘. I-Tsing, yang merupakan pendatang dari China Tartar dan lidahnya tidak bisa menyebutkan So, maka ejaan yang familiar baginya adalah To. Sehingga, kata solapun atau selapon disebutkan dengan sebutan Tola P‘ohwang. Lama kelamaan, sebutan itu menjadi Tolang Powang atau kemudian menjadi Tulang Bawang.

Kerajaan Sriwijaya merupakan federasi atau gabungan antara Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tulang Bawang (Lampung). Pada masa kekuasaan Sriwijaya, pengaruh ajaran agama Hindu sangat kuat. Orang Melayu yang tidak dapat menerima ajaran tersebut, sehingga mereka kemudian menyingkir ke Skala Brak. Namun, ada sebagian orang Melayu yang menetap di Megalo dengan menjaga dan mempraktekkan budayanya sendiri yang masih eksis. Pada abad ke-7, nama Tola P‘ohwang diberi nama lain, yaitu Selampung, yang kemudian dikenal dengan nama Lampung.

Hingga kini, belum ada orang atau pihak yang dapat memastikan di mana pusat Kerajaan Tulang Bawang berada. Seorang ahli sejarah, Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini terletak di Way Tulang Bawang, yaitu antara Menggala dan Pagar Dewa, yang jaraknya sekitar radius 20 km dari pusat Kota Menggala. Jika ditilik secara geografis masa kini, kerajaan ini terletak di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, Indonesia.

Sekitar abad ke-15, Kota Manggala dan alur Sungai Tulang Bawang dikenal sebagai pusat perdagangan yang berkembang pesat, terutama dengan komoditi pertanian lada hitam. Konon, harga lada hitam yang ditawarkan kepada serikat dagang kolonial Belanda atau VOC (Oost–indische Compagnie) lebih murah dibandingkan dengan harga yang ditawarkan kepada pedagang-pedagang Banten. Oleh karenanya, komoditi ini amat terkenal di Eropa. Seiring dengan perkembangan zaman, Sungai Tulang Bawang menjadi dermaga “Boom” atau tempat bersandarnya kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru Nusantara. Namun, cerita tentang kemajuan komoditi yang satu ini hanya tinggal rekaman sejarah saja.

Kerajaan Tulang Bawang tidak terwariskan menjadi sistem pemerintahan yang masih berkembang hingga kini. Nama kerajaan ini kemudian menjadi nama Kabupaten Tulang Bawang, namun sistem dan struktur pemerintahannya disesuaikan dengan perkembangan politik modern.

2. Periode Pemerintahan
Oleh karena tidak banyaknya catatan sejarah yang mengungkap fakta lebih dalam lagi seputar Kerajaan Tulang Bawang, maka data tentang periode pemerintahannya pun masih dalam proses pengumpulan.

3. Wilayah Kekuasaan
Kekuasaan Kerajaan Tulang Bawang mencakup wilayah yang kini lebih dikenal dengan Provinsi Lampung.

4. Struktur Pemerintahan
Struktur pemerintahan Kerajaan Tulang Bawang belum didapat datanya. Berikut ini akan dibahas tentang bagaimana sistem pemerintahan daerah Tulang Bawang pada masa pra-kemerdekaan, yaitu ketika daerah ini menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda. Pada tanggal 22 November 1808, pemerintahan Kesiden Lampung ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda berada di bawah pengawasan langsung Gubernur Jenderal Herman Wiliam. Hal ini berakibat pada penataan ulang pemerintahan adat yang kemudian dijadikan alat untuk menarik simpati masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda di bawah kekuasaan Gubernur Jenderal Herman Wiliam kemudian membentuk Pemerintahan Marga yang dipimpin oleh Kepala Marga (Kebuayan). Wilayah Tulang Bawang dibagi ke dalam tiga kebuayan, yaitu Buay Bulan, Buay Tegamoan, dan Buay Umpu. Pada tahun 1914, dibentuk kebuayan baru, yaitu Buay Aji.

Namun, sistem ini tidak berjalan lama karena pada tahun 1864 mulai dibentuk sistem Pemerintahan Pesirah berdasarkan Keputusan Kesiden Lampung No. 362/12 tanggal 31 Mei 1864. Sejak saat itu, pembangunan berbagai fasilitas yang menguntungkan kepentingan Hindia Belanda mulai dibangun, termasuk di Tulang Bawang. Ketika Kesiden Lampung dijajah oleh Jepang, tidak banyak hal yang berubah. Setelah Indonesia merdeka, Lampung ditetapkan sebagai keresidenan dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Setelah Indonesia merdeka, banyak terjadi perubahan sistem pemerintahan Lampung. Bahkan, sejak pemekaran wilayah provinsi marak terjadi di era otonomi daerah, Lampung ditetapkan sebagai wilayah provinsi yang terpisah dari Provinsi Sumatera Selatan. Sejak saat itu, status Menggala ditetapkan sebagai Kecamatan Menggala di bawah naungan Provinsi Lampung Utara.

Sejarah Kabupaten Tulang Bawang tidak berdiri begitu saja, melainkan melalui proses pertemuan penting antara sesepuh dan tokoh masyarakat bersama dengan pemerintah yang diadakan sejak tahun 1972. Pertemuan tersebut merencanakan pembentukan Provinsi Lampung menjadi sepuluh kabupaten/kota. Pada tahun 1981, Pemerintah Provinsi Lampung kemudian membentuk delapan Lembaga Pembantu Bupati, yang salah satunya adalah Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No.821.26/502 tanggal 8 Juni 1981, dibentuk wilayah kerja Pembantu Bupati Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Lampung Utara Wilayah Provinsi Lampung.

Melalui proses yang begitu panjang, akhirnya keberadaan Kabupaten Tulang Bawang diputuskan melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 Maret 1997. Sebagai tindak lanjutnya, keputusan tersebut dikembangkan dalam UU No. 2 Tahun 1997 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Tulang Bawang dan Kabupaten Tingkat II Tagamus.

6. Kehidupan Sosial-Budaya
Ketika ditemukan oleh I-Tsing pada abad ke-4, kehidupan masyarakat Tulang Bawang masih tradisional. Meski demikian, mereka sudah pandai membuat kerajinan tangan dari logam besi dan membuat gula aren. Dalam perkembangan selanjutnya, kehidupan masyarakat Tulang Bawang juga masih ditandai dengan kegiatan ekonomi yang terus bergeliat. Pada abad ke-15, daerah Tulang Bawang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan di Nusantara. Pada saat itu, komoditi lada hitam merupakan produk pertanian yang sangat diunggulkan. Deskripsi tentang kehidupan sosial-budaya masyarakat Tulang Bawang lainnya masih dalam proses pengumpulan data.

Sumber :
• www.lampungtengah.go.id.
• www.tulangbawang.go.id.
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com

Read More......

Kerajaan Skala Brak
Language : Inggris


1. Sejarah

Keberadaan Kerajaan Skala Brak dapat ditelusuri melalui peninggalan-peninggalan sejarah, yaitu patung, kenali, batu brak, liwa dan sukau, dan pahatan corak Megalitik di sekitar Pekon Purawiwitan Sumberjaya. Kerajaan ini terletak di lereng Gunung Pesagi, tepatnya di daratan Belalau, sebelah selatan Danau Ranau (yang kini dikenal Kabupaten Lampung Barat), di Sumatera Selatan, Indonesia. Gunung ini menjadi tempat pertapaan yang ramai dikunjungi masyarakat hingga kini. Kemasyhuran kerajaan ini juga ditandai adanya tambo-tambo yang terbuat dari kulit kayu dan kulit kerbau.

Benda-benda kuno peninggalan sejarah yang lainnya memperkuat bukti keberadaan kerajaan ini. Pertama, adanya batu tulis besar di Bunuk Tuar atau dikenal dengan istilah haur kuning (liwa). Tinggi batu ini adalah 1,33 meter, lebarnya 20 cm, dan lebar bawahnya 50 cm. Batu ini bertuliskan huruf Hindu (Pallawa). Kedua, batu kepapang atau batu bercangkah di Tanjung Menang Kenali. Diperkirakan batu ini sebagai tempat penghukuman bagi orang yang melanggar hukum. Ketiga, situs batu bekhak di Pekon Purawiwitan Sumberjaya. Sebelum mengenal perkakas besi, orang zaman dahulu lebih mengenal batu ini.

Bukti sejarah lain berupa prasasti. Prof. Dr. Louis-Charles Damais, misalnya, pernah mengungkap fakta prasasti Hujung Langit dalam bukunya berjudul Epigrafi dan Sejarah Nusantara (1995). Prasasti yang bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997 Masehi) ini ditemukan di Desa Bawang, antara Liwa dan Gunung Pesagi. Sebagaimana tercantum dalam baris-7, yang mengeluarkan prasasti ini adalah Sri Haridewa, nama raja di Lampung. Diperkirakan raja ini ada hubungannya dengan Kerajaan Skala Brak.

Berdasarkan bukti-bukti peninggalan sejarah tersebut, banyak pakar sejarah yang tidak menampik argumentasi bahwa Kerajaan Skala Brak itu benar-benar ada. Di antara pakar-pakar sejarah yang dimaksud adalah Dr. Fn. Fune, Groenevelt, Rampanggilay,Van Vollenhoven, L.C Westenenk, dan Hellfich. Artinya bahwa Skala Brak merupakan daerah asal usul (cikal bakal) suku asli Lampung. Warga Skala Brak melakukan perpindahan secara bertahap dari waktu ke waktu ke berbagai daerah di Lampung dan sekitarnya.

Proses perpindahan tersebut didasarkan pada sejumlah peristiwa penting. Pertama, Suku Tumi pernah terusir akibat jatuhnya Skala Brak ke tangan Paksi Pak Skala Brak ketika ajaran Islam mulai masuk ke daerah ini. Kedua, proses perpindahan terjadi akibat adanya perselisihan di antara para keluarga. Kelompok yang tidak menerima keadaan lebih memutuskan untuk berpindah ke daerah lain. Ketiga, adanya gempa bumi yang menyebabkan sebagian warga berpindah ke tempat lain. Keempat, adanya peraturan adat yang menetapkan bahwa hak adat jatuh atau diwarisi oleh Putera Tertua. Anak-anak muda umumnya tidak memiliki hak. Mereka akhirnya memutuskan pindah ke daerah lain dengan harapan akan mendapatkan kedudukan dan tingkatan sosial yang lebih baik.

Proses persebaran suku ini terjadi melalui aliran Sungai Komering, Semangkai, Sekampung, Seputih, Tulang Bawang, Way Umpu, Way Rarem, dan Way Besai. Seluruh aliran sungai tersebut merupakan lingkup wilayah Lampung saat ini, kecuali Sungai Komering yang masuk dalam wilayah Palembang.

Menurut catatan Kitab Tiongkok kuno, yang disalin oleh Groenevelt ke dalam bahasa Inggris, bahwa antara tahun 454 dan 464 terdapat suatu kisah tentang Kerajaan Kendali yang terletak antara Pulau Jawa dan Kamboja. Seorang Baginda dari Kendali atau disebut dengan istilah Sapanalanlinda (belum ditemukan data siapa nama sesungguhnya) pernah mengirimkan seorang utusan bernama Taruda ke Tiongkok dengan hadiah berupa emas dan perak. L.C. Westenenk mengatakan bahwa nama Kendali dalam kerajaan tersebut dapat dihubungkan dengan Kenali, ibukota Kecamatan Belalau.

Kerajaan Skala Brak runtuh seiring masuknya ajaran Islam. Menurut riwayat yang ada dalam tambo, terdapat empat orang Putera Raja Pagaruyung tiba di Skala Brak, yaitu Umpu Belunguh, Umpu Pernong, Umpu Berjalan Di Way, dan Umpu Nyerupa. Kata Umpu berasal dari kata Ampu, sebagaimana tertera dalam batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan untuk anak raja-raja di Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Skala Brak, keempat umpu tersebut kemudian bertemu dengan Mulu yang diantar oleh seseorang dengan sebutan Si Bulan. Di Skala Brak, empat umpu itu mendirikan perkumpulan bernama Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Melalui empat tokoh ini, dakwah Islam mulai berkembang. Banyak penduduk, termasuk Suku Tumi yang memeluk Islam. Namun, penduduk yang enggan memeluk Islam memutuskan untuk melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa. Sebagian lagi ada yang pergi ke daerah Palembang.

Empat umpu tersebut berperan besar terhadap berdirinya Kerajaan Skala Brak. Kerajaan ini kemudian dibagi ke dalam empat wilayah, dengan masing-masing empat tokoh tersebut sebagai pimpinannya. Pertama, Umpu Belunguh memerintah Belalau dengan ibukotanya Tanjung Menang Kenali. Wilayah ini dikenal sebagai Paksi Buay Belunguh. Kedua, Umpu Pernong memerintah Batu Brak dengan ibukota Hanibung. Wilayah ini dikenal sebagai Paksi Buay Pernong. Ketiga, Umpu Berjalan Di Way memerintah di Kembahang dan Balik Bukit dengan ibukotanya Ibu Negeri Puncak. Wilayah ini dikenal sebagai Paksi Buay Bejalan Di Way. Keempat, Umpu Nyerupa memerintah di Sukau dengan ibukotanya Tapak Siring. Wilayah ini dikenal sebagai Paksi Buay Nyerupa. Si Bulan sendiri juga mendapatkan wilayah bernama Cenggiring. Namun, karena daerah ini dekat dengan Paksi Buay Pernong, maka daerah ini digabungkan saja dengan paksi itu.

Suku Tumi yang melarikan diri ke Pesisir Krui kemudian menempati marga-marga Punggawa Lima, yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai, dan Marga Way Sindi. Namun, sayangnya lima wilayah dalam marga Punggawa Lima ini dapat ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan dibantu oleh lima orang punggawa dari Paksi Pak Skala Brak. Nama marga Punggawa Lima berasal dari peran kelima punggawa yang menempati daerah yang telah ditaklukkan tersebut.

2. Wilayah Kekuasaan
Kekuasaan Kerajaan Skala Brak meliputi wilayah yang kini masuk dalam wilayah Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Indonesia.

3. Struktur Pemerintahan
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa struktur pemerintahan Kerajaan Skala Brak dibagi berdasarkan empat paksi (Paksi Pak Skala Brak), yaitu Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Pernong, Paksi Buay Bejalan Di Way, dan Paksi Buay Nyerupa.

4. Kehidupan Sosial-Budaya
Pada awalnya, dataran Skala Brak dihuni oleh Suku Tumi yang menganut kepercayaan animisme. Suku ini mengagungkan sebuah pohon yang mereka percayai sebagai tempat persemayaman para dewa, yaitu pohon Belasa Kepampang atau nangka yang bercabang. Pohon ini memiliki dua cabang, salah satu cabangnya adalah nangka dan satunya lagi adalah sebukau, yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan pohon ini terletak pada khasiatnya sebagai obat penawar racun. Misalnya, jika seseorang terkena getah dahannya maka dapat menderita penyakit kulit. Namun, jika diobati dengan batangnya maka penyakit itu akan hilang karena merupakan obat penawarnya.

Setelah Islam masuk di wilayah Kerajaan Skala Brak, banyak terjadi perubahan terhadap sistem religi dan kepercayaan masyarakat setempat. Sebagai contoh, pohon Melasa Kepapang yang merupakan tempat pemujaan Suku Tumi di Kerajaan Skala Brak ditebang oleh Paksi Pak. Pohon itu kemudian diganti menjadi pepadun, yaitu tempat singgasana yang digunakan pada saat penobatan Saibatin, raja-raja dari Paksi Pak Skala Brak dan keturunan-keturunannya. Pepadun ini merupakan pepadun yang pertama kali ada di Lampung. Sekitar awal abad ke-9, para Saibatin membuat aksara dan angka tersendiri sebagai Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung. Had Lampung sebenarnya dipengaruhi oleh dua unsur, yaitu aksara Pallawa dan huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong Aceh, aksara Rejang Bengkulu, dan aksara Bugis.

Ada dua pemahaman tentang makna pepaduan tersebut. Pertama, untuk memadukan pengesahan atau pentahbisan bahwa yang duduk di atas pepaduan adalah raja. Kedua, sebagai tempat bagi orang yang mengadukan hal ihwal seputar kerajaan atau orang yang berhak mengambil keputusan. Fungsi pepaduan hanya untuk raja-raja yang memerintah di Skala Brak. Atas kesepakatan empat paksi, maka pepaduan tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpannya. Ia juga ditunjuk sebagai bendahara di Pekon Luas, Paksi Buay Belunguh. Adanya posisi bendahara ini adalah untuk menghindari terjadinya perebutan atau perselisihan antara keturunan-keturunan Paksi Pak Skala Brak di kemudian hari. Salah seorang dari empat umpu dan keturunannya dapat meminjam pepaduan untuk menobatkan salah seorang keturunannya sebagai raja, namun setelah selesai digunakan harus dikembalikan kepada Benyata.

Pada tahun 1939, pernah terjadi perselisihan di antara keturunan Benyata dalam hal perebutan keturunan yang tertua dan siapa yang berhak menyimpan pepaduan sepeninggalan Benyata. Setelah diadakan rapat adat dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, diputuskan bahwa yang berhak menyimpan pepaduan adalah mereka yang memiliki garis keturunan yang lurus dengan Umpu Belunguh. Keputusan itu masih berlaku hingga kini.

Masyarakat Lampung, termasuk Skala Brak, sangat berpegang teguh terhadap norma dan adat, baik yang diwariskan secara lisan maupun melalui tulisan huruf Lampung Kuno. Kehidupan masyarakat biasanya diatur dengan sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal di mana pemerintahan diatur berdasarkan adat (mengutamakan kaum laki-laki) dalam hal sistem mata pencaharian, kekerabatan, dan kehidupan sosial-budaya.

Sumber :
• www.pariwisata.lampung.go.id.
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com

Read More......

Asal Usul Masyarakat Lampung
Language : Inggris

Asal-usul ulun Lampung (Orang Lampung atau Etnis Lampung) erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata "anjak lambung" yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung.

Prof Hilman Hadikusuma didalam bukunya (Adat Istiadat Lampung:1983) menyatakan bahwa generasi awal Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya dihuni oleh Buay Tumi yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekerummong. Negeri ini menganut kepercayaan dinamisme, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.

Buay Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam yang berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Bejalan diWay, Umpu Nyerupa, Umpu Pernong dan Umpu Belunguh. Keempat Umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak Sekala Brak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama puyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Prof Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan Ulun Lampung sebagai berikut:

• Inder Gajah
Gelar: Umpu Lapah di Way Kedudukan: Puncak Dalom, Balik Bukit Keturunan: Orang Abung

• Pak Lang
Gelar: Umpu Pernong Kedudukan: Hanibung, Batu Brak Keturunan: Orang Pubian

• Sikin
Gelar: Umpu Nyerupa Kedudukan: Tampak Siring, Sukau Keturunan: Jelma Daya

• Belunguh
Gelar: Umpu Belunguh Kedudukan: Kenali, Belalau Keturunan: Peminggir

• Indarwati
Gelar: Puteri Bulan Kedudukan: Cenggiring, Batu Brak Keturunan: Tulang Bawang

1. Umpu Bejalan Di Way
2. Umpu Belunguh.
3. Umpu Nyerupa.
4. Umpu Pernong.

Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Sekala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Setelah perserikatan ini cukup kuat maka suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah agama Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu adalah seorang wanita yang bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat ditaklukkan oleh Perserikatan Paksi Pak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan sebagian lagi ke daerah Palembang. Raja terakhir dari Buay Tumi Sekala Brak adalah Kekuk Suik dengan wilayah kekuasaannya yang terakhir di Pesisir Selatan Krui -Tanjung Cina.

Dataran Sekala Brak akhirnya dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan, Maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan menggunakan nama Paksi Pak Sekala Brak. Inilah cikal bakal Kepaksian Sekala Brak yang merupakan puyang bangsa Lampung. Kepaksian Sekala Brak mereka bagi menjadi empat Marga atau Kebuayan yaitu:

1. Umpu Bejalan Di Way memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Bejalan Di Way.
2. Umpu Belunguh memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Belunguh.

3. Umpu Nyerupa memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Nyerupa

4. Umpu Pernong memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Hanibung, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Pernong.

Sedangkan Si Bulan mendapatkan daerah Cenggiring namun kemudian Si Bulan berangkat dari Sekala Brak menuju kearah matahari hidup. Dan daerah pembagiannya digabungkan ke daerah Paksi Buay Pernong karena letaknya yang berdekatan.

Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui menempati marga marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kemudian dapat ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan bantuan lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima orang punggawa inilah nama daerah ini disebut dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang untuk kemudian dibuat PEPADUN. Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan SAIBATIN Raja Raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunan keturunannya. Dengan ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda jatuhnya kekuasaan suku bangsa Tumi sekaligus hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak. Sekitar awal abad ke 9 Masehi para Saibatin di Sekala Brak menciptakan aksara dan angka tersendiri sebagai Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung.

Ada dua makna didalam mengartikan kata Pepadun, yaitu:
1. Dimaknakan sebagai PAPADUN yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk diatasnya adalah Raja.

2. Dimaknakan sebagai PAADUAN yang berarti tempat mengadukan suatu hal ihwal. Maka jelaslah bahwa mereka yang duduk diatasnya adalah tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan.

Ini jelas bahwa fungsi Pepadun hanya diperuntukkan bagi Raja Raja yang memerintah di Sekala Brak. Atas mufakat dari keempat Paksi maka Pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpan, serta ditunjuk sebagai bendahara Pekon Luas, Paksi Buay Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.

Manakala salah seorang dari keempat Umpu dan keturunannya memerlukan Pepadun tersebut untuk menobatkan salah satu keturunannya maka Pepadun itu dapat diambil atau dipinjam yang setelah digunakan harus dikembalikan. Adanya bendahara yang dipercayakan kepada Benyata semata mata untuk menghindari perebutan atau perselisihan diantara keturunan keturunan Paksi Pak Sekala Brak dikemudian hari.

Pada Tahun 1939 terjadi perselisihan diantara keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Maka atas keputusan kerapatan adat dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, Pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang.

Sumber
• www.pariwisata.lampung.go.id.
• www.id.wikipedia.org.
• http//melayuonline.com


Read More......

Tuesday, September 29, 2009

Malayo-Polynesian languages

Malayo-Polynesian languages, sometimes also called Austronesian languages family of languages estimated at from 300 to 500 tongues and understood by approximately 300 million people in Madagascar; the Malay Peninsula; Indonesia and New Guinea; the Philippines; Taiwan; the Melanesian, Micronesian, and Polynesian islands; and New Zealand. Today four Malayo-Polynesian languages have official status in four important states: Malagasy, in Madagascar; Malay, in Malaysia; Indonesian (also called Bahasa Indonesia, and based on Malay), in Indonesia; and Pilipino (based on Tagalog), in the Philippines. These languages have come to be widely understood in their respective countries, although not always as a first language.

The Malayo-Polynesian family has two subfamilies, Western Malayo-Polynesian and Eastern Malayo-Polynesian. The Western subfamily has the greater significance from both a cultural and a commercial viewpoint. Western Malayo-Polynesian languages are spoken by over 200 million people and include Malagasy, the language of 13 million people on the island of Madagascar; Malay, native to 28 million in Malaysia and the island of Sumatra, in Indonesia; Indonesian or Bahasa Indonesia [Indonesian language], which is based on the Malay language and is spoken natively by about 26 million people in Indonesia; Javanese, the mother tongue of 62 million people on Java; Sundanese, the language of 25 million, also on Java; Madurese, with 10 million speakers on Madura; Balinese, spoken by 2.5 million on Bali; and Pilipino or Tagalog, the native tongue of about 20 million in the Philippines. The Eastern branch consists of the Melanesian, Micronesian, and Polynesian groups of languages. Although there is a very large number of these languages, all together they are spoken by only 5 million people. Melanesian languages are found on the islands of Fiji, the Solomon Islands, Vanuatu, New Caledonia, the Bismarck Archipelago, and New Guinea.

The Malayo-Polynesian languages exhibit an abundance of vowels and a comparative paucity of consonants. They also tend to have disyllabic roots, form derivatives by means of affixes, and use reduplication to indicate the plural and other grammatical concepts. Writing varies, some forms being based on the Roman alphabet and others on alphabets derived from Indian or Arabic scripts.

It is thought that the original Malayo-Polynesian speakers came from a part of Asia near the Malay Peninsula and later migrated west as far as Madagascar and east to the Pacific. This migration probably began well over two thousand years ago. Because Malayo-Polynesian speakers lived on thousands of islands that were often widely separated, and because in earlier times communication among them was difficult, if not impossible, many dialects and, in time, languages evolved from the ancestor language, Proto-Malayo-Polynesian. Although it has been suggested that the Malayo-Polynesian and Southeast Asian (or Austroasiatic) languages form a single Austric family, this has not been proved. In fact, the Malayo-Polynesian tongues do not seem to be related to any other linguistic family.

See R. C. Green and A. Pawley, The Linguistic Subgroup of Polynesia (1966).

The Columbia Electronic Encyclopedia, 6th ed. Copyright © 2007, Columbia University Press. All rights reserved.

Source : http://www.infoplease.com

Read More......

Monday, September 28, 2009

Work Experience Jobs
by: Steve Volman

Every country and religion in the world expresses the importance of giving unto others with a generous heart. Many people limit their charity work to simply writing a check, which is important too. However, time and effort are equally important and can make the difference in someone's outlook on life. Young people in particular seem to be stepping up to the plate more than ever before, offering their services through school, church, missions, and family programs. There are volunteer jobs available for young people all over the globe and even in most cities.

One doesn't even need a passport to find someone in need. Most cities and towns have food closets and missions that work around the clock to feed the homeless and care for those who are having difficult circumstances. Volunteer jobs at these types of locations are available in serving meals, cleaning the facilities, and even providing recreational or motivational activities to those participating.

Another opportunity for charity work is volunteering for a program such as Habitat for Humanity. This is a program works to build homes for the homeless by bringing together a group of volunteer contractors, suppliers and builders. The builders range from young teenagers up to the elderly as well. There are jobs for everyone to do on site and the time is welcomed and appreciated. Best of all, the volunteers usually get to be at the home when the new owner sees it for the first time, which is quite rewarding.

Many community organizations and schools have volunteer jobs available for young people to participate in either after school or on the weekends. These types of jobs can include sorting, delivering, answering phones and mailing letters to name a few. These types of volunteer jobs are not only needed, but look fantastic on a resume or college application, as they display selflessness and a willingness to serve others.

For those looking to reach further, there is an overflow of charity work available in countries all over the world. Various missions trips leave daily to these countries, through various programs and organizations that have a passion to feed the hungry and give homes to the homeless. Some villages simply don't have running water. Missionaries and volunteers go to these villages to dig wells. Other places lack food to feed their children or homes to stay in. The price of building homes in these types of places is a fraction of what it is elsewhere, and it changes their lives forever. Though transportation and trip costs must be covered by the volunteers themselves, it is a cost worth paying.

Charity work allows young people to leave a legacy of compassion and to truly live life for all it's worth. These young people make a mark not only in the lives around them, but also upon themselves. Participating in volunteer jobs can be rewarding to both those serving and those being served.

Read More......

Have Fun Learning Creativity

You have some great ideas. You toss them around in your mind. You tell friends about them. They go nowhere. Why? They go nowhere because of what your friends said or because you have the misconception that only a select few are able to unleash a steady flow of creative genius. And, you, of course, couldn't be one of that select group. That is not true at all.

Anyone who has creative genius will tell you that creativity is very much like a muscle that needs to be developed in order to perform at top efficiency. If you don't learn how to develop creative thinking, this skill, like a muscle will become withered and useless to you when you most need it. On the other hand, keep working at it and this skill will soon be ready for action whenever you need it.

So how do you develop your own personal style of creative thinking?

Well, the first thing is to realize your brain has a greater capacity and speed than the world's biggest and fastest super computer. That's right! Even the world's biggest and fastest super computer cannot store as much information or handle it faster than your brain. You are not limited like a super computer because your brain is not limited and that's where creativity comes from - your brain. It doesn't come from thin air, it comes from within you and you already have the tools needed to exercise it.

So, the first thing is to begin absorbing as much information as you can every day. Grab as much knowledge and learning as you can find. Read, watch, and listen to everything available -- good and bad. Don't judge anything at this point of development because it's not the content that is important, only the process of absorption. Keep your mind open to the infinite possibilities that each piece of information presents. The more you know, the more you'll want to know, and the more your brain will be exercised. Prepare to be amazed at little facts that add a bit of color to your conversations with people. They will begin to see you in a new light.

Next, focus on a creative activity every day. This is as simple as doodling. Doodling is a creative activity. Don't let anything hinder you. Just doodle away, mindlessly. You will unleash a little bit of creative thinking and it will be encouraging to see something you created. In addition to doodling, practice drawing something specific for a couple of minutes each day. You might unleash the artist in you.

Or, grab a camera and start snapping photos of anything and everything. Don't try to be "artsy,” just snap away! You might find you have a knack for photography.

Keep a journal and make a point to write in it at the end of each day. Describe your experiences using words that capture your five senses. What did it smell like, taste like, feel like - you get the idea? You may discover a writer lurking in your brain.

In a short time you'll have built yourself a tiny portfolio or doodles, art, photographs and writings and you'll be amazed at the growth of your creativity. You might actually enjoy those exercises so much that they will become a part of you and you'll be addicted to them.

You've heard it said - Think out of the box. Well, not just yet. Be aware of constraints or blocks to your creative process. Constraints are actually a good thing. It's your brain telling you it needs more knowledge about that which you are struggling. Constraints are the brain's mechanisms to force discipline upon you. Discipline forces you to be more resourceful. Creative freedom is great, but limitations are too. There must be balance.

Oscar winner, Anthony Hopkins, would just get in his car and drive across country alone with no destination in particular. It helped him experience different people in different parts of the country, away from the unreality of Hollywood. These little trips helped him to become a better actor.

Try something new every day and let your experiences broaden your view of the world and people around you. Explore a new neighborhood in your town. Spend an afternoon in a museum to which you've never been before. Chat up someone in the checkout line at the store. You need to open up to the people around you. You need to step out of your comfort zone more and more each day. This will heighten your sense of adventure and your zest for life.

Think about it. When was the last time you did something out of your comfort zone? When you stay in your comfort zone, you miss out on a whole lot of experiences that could add to your growth - emotionally, mentally, physically, or spiritually.

I would love to try bungee jumping and skydiving but I'm a coward when it comes to risking life and limb. If you have the courage, go for it! At the very least, you will have plenty of exciting stories to share, enabling you to develop your storytelling skills, making you the life of any gathering. People will love to hear you tell about doing the things they only dream of doing.

This next thing will seem nutty. It is. You need to embrace insanity. I'm not talking about the kind that will land you in a rubber room. As John Russell once said, "Sanity calms, but madness (insanity) is more interesting."

History shows that nearly every creative thinker was once deemed insane by "normal" people. Lucky for us, the critics couldn't stop the creative geniuses from changing the world. Being "normal" confines’ people to think - normally, that is, to think within limits society has deemed to be normal. Creativity is essentially ignoring those limits, within the Law, of course. Your creativity may seem bizarre and downright strange to the "normals.” Ignore them and seek out others who also ignore the "normals" of this world. They will know how to help you to cultivate your new sense of creativity.

Now, a word of caution as you step out in your search for creativity. Don't strive to develop a creative "personality." There is a difference between a creative personality and creative thinking. Examples of wacky creative personalities would be George Washington, who often rode into battle naked, or James Joyce, who wrote "Dubliners" with beetle juice because he had an intense fear of ink, or Albert Einstein, who thought his cat was a spy sent by his rival. They were all great men, for sure, but a little wacky at times because they lost touch with reality.

It's important that your creativity doesn't blind you to the real world. Keep your feet on the ground and your head in the clouds! (Look familiar?)

Starting today, begin thinking beyond your "limits." Follow these steps and you'll soon be living a life full of interesting and exciting adventures. Your new level creative thinking will bring about a new zest for living life.

Who knows, your idea might be the next great idea to change the world.

by: Malkeet Singhi

Read More......

Sunday, September 27, 2009

Pemulung Bakar Ilalang Sumber Air Langka Picu Tersendatnya Pemadaman



Imam Wahyudiyanta
Sumber : detik.com

Surabaya - Upaya pemadaman kebakaran di RT I RW III Tubanan Lama Kecamatan Tandes, Surabaya mengalami kesulitan.

Sebab di lokasi kejadian tidak ada sumber air. Akibatnya proses pemadaman pun menjadi tersendat.

"Kami harus mengambil air di Sungai Balongsari dan jaraknya lumayan jauh dari
lokasi kebakaran," kata Komandan Operasional PMK, Suparman kepada
detiksurabaya.com di lokasi kejadian, Sabtu (26/9/2009).

Suparman mengatakan bila sumber air terpenuhi maka kebakaran itu tidak sampai
merembet ke bangunan rumah lainnya. "Kalau kebakaran seperti ini cukup satu
jam," ujar dia.

Pantauan detiksurabaya.com, petugas PMK terpaksa menghentikan pemadaman karena
menunggu pasokan air dari Balongsari. Sementara itu api masih terlihat di antara
reruntuhan rumah yang sudah hangus.

Warga setempay pun terlihat berusaha membuat jarak untuk memisahkan sumber api dengan lokasi yang masih aman.

Kebakaran yang terjadi Sabtu petang itu diduga berawal dari ulah pemulung yang membakar ilalang. Akibat api yang meluas, dilaporkan 6 rumah, gudang dan bengkel ikut ludes.

Read More......

Saturday, September 26, 2009

Hutan di Lereng Gunung Lawu Terbakar.detik.com


Ngawi - Setelah Gunung Penanggungan Pasuruan, giliran hutan di lereng Gunung Lawu yang terbakar. Si jago merah mengamuk terlihat pukul 14.00 WIB di Ngrayudan Kecamatan Jogorogo Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (26/9/2009).

Hingga pukul 21.00 Wib masih terlihat berkobar. Api berkobar dengan ganas karena angin di puncak gunung yang memiliki ketinggian 3.265 dpl bertiup cukup kencang.

Meski belum bisa dipadamkan, namun petugas gabungan Polri, TNI AD maupun Perhutani maupun warga berusaha melokalisir api agar tak merambah ke permukiman penduduk.

"Saat ini lokasi api sudah kita lokalisir agar tidak merembet ke pemukiman warga
di bawah. Sedangkan luas hutan yang terbakar sampai saat ini mencapai 200
hektar," kata Kapolres Ngawi AKBP Budi Sajidin saat dihubungi detiksurabaya.com.

Budi mengungkapkan, saat ini seluruh kekuatan baik dari Polres Ngawi, Polwil
Madiun, Kodim, Polisi Kehutanan, dan warga berada di lokasi untuk melakukan
pemadaman.

Ada dua cara yang dilakukan untuk memadamkan api kata Budi. Yang pertama dengan melokalisir titik api dan pemadaman secara tradisional (dahan dibasahi lalu dipukulkan ke bara api).

"Kita sekarang all out untuk memadamkan api. Bahkan baru saja malam ini puluhan
warga dikerahkan untuk membantu pemadaman," tuturnya.

Gunung Lawu terletak di perbatasan Provinsi Jatim dengan Jateng. Status gunung ini adalah gunung api yang telah lama tidak aktif.

Seperti dilansir wikipedia, di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden Suharto.

Read More......

Friday, September 25, 2009

Social Skill Repair: Creative Methods To Build Students' Peer Skills

By Ruth Wells
From : www.edarticle

Peer interaction problems can make any school or agency site chaotic, loud, unpleasant or unsafe. There are no quick fixes to instantly turnaround all your peer problems, but here are some fun ways to begin the process.

The more you can use creative, unexpected and humorous methods, the more success you may achieve repairing poor peer skills. Rely on methods that catch your resistant, oppositional, depressed, withdrawn and defiant youth off-guard and powerfully engage them in learning despite themselves. The interventions below offer those benefits.

** Who You Gonna Call? Gropes Busters! Here's a fun multiple choice quiz that teaches while your students are laughing. Permission is granted to you to print out the quiz for use with students.

The Gropes-Busters Quiz

1. When standing near other kids, it is very important to stand: a) Nose to nose b) On their toes c) About one arm length away

2. When other students say "No," it really means: a) "Yes" with an attitude b) The "n" and "o" are silent c) Stop!

3. When touching others, a guideline to follow is: a) Grope first, ask second b) Ask first, grope second c) Ask first and comply with the answer

4. When watching pro sports like football and hockey, it is important to remember that a) Slapping people's backsides is a universal greeting b) Violent contact is welcomed everywhere c) No one should ever behave as badly as misbehaved pro athletes

5. When touching others, it is always best to a) Never touch anything labeled "radioactive" b) Never touch anything you can't reach c) Never touch until receiving permission first

**BONUS INTERVENTION
To generate a dialogue about interacting with peers who are ethnically, culturally, or otherwise different, use this group experience exercise: Divide students into two groups. Each group will be given the task of either buying or selling items. Privately provide separate instructions to each group on how they may behave, and have these instructions conflict. For example, one group may talk only to blondes; the other group may not permit blondes to talk to others from outside the group. The resulting conflict will mirror real-life clashes and can be followed by a discussion on identifying, understanding and managing cultural, ethnic and interpersonal differences.

**BONUS INTERVENTION
"Problem hands" can be a big problem. It is important to teach youngsters who are being victimized, how to avoid additional problems. But, in addition, remember to teach the victimized kids that they are not to blame. Victims sometimes don't report problem touching by peers for reasons that relate to self-blame. Teach these youngsters that they were not to blame regardless of their dress, demeanor, reputation or personal history. Self-blame issues can be especially important for girls and young women.

Read More......

YouTube Rilis Update Terbaru

Sumber : www.detik.com
Fajar Widiantoro

Jakarta - YouTube telah merilis beberapa update terbarunya. Layaknya situs mikro blogging Twitter, kini YouTube pun memiliki 'trending topics'.

Selain 'trending topics', masih ada 'friend suggestions' dan 'sticky hq' serta fitur komentar terbaru, yang menggantikan fitur komentar model lama dengan siatem halaman yang dirasa kuno.

Berdasarkan keterangan blog resmi YouTube yang dikutip detikINET, Jumat (25/9/2009), ada fitur 'recommended friends list' yang langsung menunjukan
homapage sang user. Diharapkan nantinya hal ini juga bakal terintegrasi langsung dengan Gmail.

Selain itu, masih ada fitur 'topik terpopuler' layaknya milik Twitter, yang terletak di bagian atas saat akan melakukan browsing video.

Secara fungsional, perubahan-perubahan serta update fitur terbaru YouTube tersebut akan menambah pengalaman pengguna, dalam mengeksplorasi situs sharing
video tersebut.

Berikut ini adalah beberapa update lain dari YouTube:
- Friend suggestion
- Activity subscription
- Sticky HQ
- New Discovery Features in Insight
- Resume where you left off
- Subscriptions comes to Shows, Movie Trailers
- Poster art in Movies
( ash )

Read More......

Tiap Detik Pengguna Opera Mini Bertambah' Fajar Widiantoro

Jakarta - Browser mobile Opera mini mencapai angka pertumbuhan yang luar biasa. Bahkan Opera mengklaim tiap detiknya, pengguna Opera mini bertambah pada bulan Agustus lalu.

Hal tersebut dijelaskan pihak Opera, sesuai keterangan resmi yang diterima detikINET, Jumat (25/9/2009). Berdasarkan laporan itu, kini 31,9 juta orang telah menggunakan mobile internet browser dengan logo O tersebut. Jumlah ini pun meningkat 9,9 %, dibandingkan Juli 2009 dan meningkat 147 % jika dibandingkan periode Agustus 2008.

Lebih lanjut disebutkan bahwa pada Agustus 2009, jumlah halaman yang dibuka oleh 31,9 juta pengguna opera mencapai 13,9 miliar halaman situs. Sementara itu jumlah keseluruhan trafik data pengguna Opera pada bulan Agustus lalu kini telah mencapai 209 juta MB di seluruh dunia.

"Opera Mini telah membuktikan bahwa kunci dari kecepatan laju pertumbuhan ini, adalah terletak pada browser yang lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan para pengguna," ujar CEO Opera Jon von Tetzchner dalam keterangan resminya.

Perkataan CEO Opera tersebut memang benar adanya. Pasalnya untuk memenuhi kebutuhan pengguna, Opera mini selalu melakukan update. Seperti beberapa pekan lalu, dengan diluncurkannya Opera mini beta 5, yang membawa perubahan besar, bagi pengalaman pengguna Opera mini.

Dengan demikian bukan tak mungkin, bahwa pengguna Opera mini semakin bertambah dari waktu ke waktu. Jika berminat pengguna bisa mengunduh software berbasis J2ME ini pada link berikut. ( fw / ash )
Sumber : www.detik.com

Read More......

ALL CHILDREN BY NATURE HAVE A MUSICAL BRAIN

Georgia G. Markea
Post-doc and PhD in Music Education,
University of London, Institute of Education
School Adviser for Music Education,
Based in Athens
From : edarticle.com


‘We are all musical; we just need the opportunity’, claims Welch (2001) and certainly he is right. Music is a language and expressing it in words constitutes a natural activity for us; so also our need to sing derives from our very same nature. Music was born with speech. In ancient Greece indeed our language was called ‘prosodic’ because it was sung. As characteristically mentioned by ancient writers on harmony, ‘Greeks used to sing through words and speak through song’.

International research has shown that when children are born not especially gifted in music, if they begin from an early age to study a musical instrument they will develop further skills, with positive results not only in music, but also in whatever other field they choose. Indeed recent research (see Gorman, 2005) shows that involvement with music can check the destruction which occurs in brain cells with Alzheimer’s disease.

Nevertheless, the human brain in each case is musical. Consequently we are all able to sing, whether in tune or out of tune. Also, irrespective of the level of our musical abilities, we all have the same disposition to express musically, listen to, or perform ourselves the melodies which touch our hearts.

The fact that Music educators have students to teach who biologically are always in command of a musical brain significantly facilitates their work. In each case the Music educator can trust to the abilities of all his students regardlessly, as well as expressing high expectations for them. On the other hand, students could develop their skills to the highest level if at the same time they did the requisite practice (see Picture 1). This readiness to study is inspired in them chiefly by their teacher or by an individual from their background (family or friends) who they really love and through their progress want to please.

Even the exceptionally talented Mozart possibly would not have achieved the same success in music if he had not been so industrious as well. As characteristically mentioned in the book Mozart (see Solomon, 1995), this great composer was successful since ‘he simply wanted to learn music’. In short the existence of musical abilities which a musical brain affords is not sufficient. Even Mozart’s progress in music was significantly due to the fact that he actually studied a great deal. In constant study his true love guided him to music itself, a matter, however, which again stems from what you command, as we all do – a musical brain.

What occurs in the inner part of the human brain?

According to research carried out in the Centre concerned with the Education of Gifted Children on Rhode Island in America, one of the prevailing myths about our brain is that we employ only 10% of it. By contrast, in neurological studies carried out up to the present moment it has been demonstrated that there is not a single person on earth who has any part of the brain albeit small, unexploited. This favours us educators if a person considers that in the course of our teaching we address ourselves to students of whom 100% of their brain is functional. Besides, it leads us to stricter self-assessment when we measure the results of our teaching.

As regards what happens in our brains concerning the development of our musical skills, Trainor et al. (2002) confirm the view that our brains are musical from birth. The researchers in question claim that the registering of special elements of music takes place automatically in the human brain and consequently there exists a certain part of our brain which is mainly concerned with music (see Image 1).

According to research carried out, the brain of a professional musician who has begun studying music from a very early age presents a disproportionate size in the acoustic crust (see Zatorre et al., 1998; Pantev et al., 1998). Likewise, in a study by the pathologist Thomas Harvey on the brain of Einstein (his brain has been preserved for purposes of research) a small clot was located in his kinetic crust. This usually relates to musical ability. In fact Einstein played the violin from a very early age. One further finding from the same research which deserves to be mentioned is that genius in whatever branch of science or art has nothing to do with the size of the brain, but with difference in its structure (see www.press-argolida.blogspot.com). As noted, Einstein’s brain differs chiefly in this respect from the average.

Are the musically talented created or born?

We are all by our nature gifted with musical abilities. An exception is the case of ‘Congenital Amusia’ (see Peretz, 2001), which nevertheless most probably is acquired and brought on by damage to the brain chiefly owing to lack of a suitable environment during the course of critical periods for the development of musical ability. Also, one other special case for children is the exceptionally talented in music who could really survive or learn music no matter what the environment (see Markea, 2005).

Most students command a musical brain. Nevertheless, finally their development in music will depend chiefly on the environment in which they grow up. For all of us, our first favourite music was our mother’s singing when we were still in her womb. With her singing began the acquired development, just in our foetal stage, of our musical skills. Indeed, as has been demonstrated, it is of great significance whether our mother’s singing was in a musical tone. This will function as a ‘diapason’ and will later ‘tune’, correctly or not, our own singing also. Moreover, according to the musical preferences of the background in which we develop, we usually choose what music we will listen to for the rest of our lives.

The attempt to develop motivation for learning music from children’s backgrounds has been demonstrated also to contribute to their musical development. According to Deci & Ryan (1985), when students’ motivation proceeds from within themselves, they are instigated by external factors, or their behaviour is based on the choice which proceeds from their own decision and is boosted by their self-awareness, which is also the basis for autonomous orientation. According to McPherson & Davidson (2006) also, students succeed in music when they have acquired their own motivation, their own goals and sense of purpose for learning to play music. Then they will form their own methods for dealing with technical or musical difficulties on each occasion and will find under their own responsibility the way to secure the necessary time for their daily study as well as tailoring the world of their study according to their own tastes. Also, they will be able to evaluate their playing by themselves. In each case, even the exceptionally talented students, will have better results if they have close to them people (such as their teachers, parents or relatives and friends) to support them in their studies.

Gagné (1991; 1995) distinguishes the terms ‘gifted’ and ‘talented’. A gifted person is considered to be the one who has natural abilities in a certain field, while a talented person is one whose abilities are moulded and developed within the environment. In each case, whether we characterize a student as ‘talented’ or ‘gifted’ it will be difficult for us to evaluate with certainly the level of talent which he commands. And this is because even the students who attend the same classes never have the same truly musical background. This is usually influenced by the student’s musical environment (chiefly family). If children’s parents have the appropriate culture they will have succeeded in guiding them promptly to study music or at least to love the world of art. Also the social background of children can have a positive or negative influence on their interest in music as well as their performance in it.

The connection between innate musical talent and the appropriate learning environment is what leads to the most perfect outcomes in the Music lesson. Nevertheless, according to research carried out in the Greek environment (see Markea, 2005), it seems that the exceptionally talented students on each occasion get better results than their fellow-students, not however because of the teaching or the environment in which they develop, but chiefly because of their innate talent.

Conclusion

If we accept that we are all by nature musical, our expectations for our students can really become greater, but also the interest of the community in the Music lesson is in urgent need of being increased. In the contemporary Greek educational system which rests on interdisciplinariness, in accordance with which all topics complement each other, Music cannot but constitute in itself ‘nothing more nor less’ than a major lesson.

References

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic Motivation and Self-determination in Human Behavior. New York: Plenum.

Gagné, F. (1991). Toward a Differentiated Model of Giftedness and Talent. In N. Colangelo & G. A. Davis, Allyn & Bacon (Eds.), Handbook of Gifted Education. Boston: MA.

Gagné, F. (1995). From Giftedness to Talent: A Developmental Model and Its Impact on the Language of the Field. Roeper Review, 18(2), 103-111.

Gorman, C. (2005). Music and the Mind. www.time.com, 14 November 2005.

Markea, G. G. (2005). Talent in Piano Playing: A Study of Exceptionally Gifted Soloists. Athens: Athens Institute for Education and Research. ISBN 960-88672-1-5.

McPherson, G. E. & Davidson, J. W. (2006). Playing An Instrument. In G. E. McPherson (Ed.), The Child As Musician: A Handbook of Musical Development. Oxford: Oxford University Press.

Pantev, C., Oostenveld, R., Engelien, A., Ross, B., Roberts, l. E., & Hock, M. (1998). Increased Auditory Cortical Representation. Nature, 392, 811-813.

Peretz, I. (2001). Brain Specialization for Music: New Evidence from Congenital Amusia. In B. Zatorre & I. Peretz (Eds.), The Biological Foundations of Music. Annals of the New York Academy of Sciences, 930, 153-165.

Solomon, M. (1995). Mozart. London: Hutchinson.

Trainor, L., McDonald, K.L. & Alain, C. (2002). Automatic and Controlled Processing of Melodic Contour and Interval Information Measured by Electrical Brain Activity. Journal of Cognitive Neuroscience, 14(3), 430-442.

Welch, G. F. (2001). United Kingdom. In D.J. Hargreaves and A.C. North (Eds.), Musical Development and Learning: The International Perspective. London: Continuum.

Zatorre, R., Perry, D., Beckett, C., Westbury, C., & Evans, A. (1998). Functional Anatomy of Musical Processing in Listeners with Absolute Pitch and Relative Pitch. Proceedings of the National Academy of Sciences, 95, 3172-3177.

www.press-argolida.blogspot.com, PRESS-Argolida, 27 April 2009.

About the Author

Georgia G. Markea is a Doctor in Music Education of the University of London (Institute of Education), where she studied under Professor Keith Swanwick with the aid of a grant from the Greek Government (IKY). At the Institute of Education she has also completed post-doctoral research in Talent in Piano Playing under the guidance of Professor Graham Welch. Since the academic year 2007-2008 she has been seconded as a School Adviser for Music Education in Athens. She is the vice -president of the Union for Primary Music Teachers (Ε.Ε.Μ.Α.Π.Ε.). She is a member of the Hellenic Union for Music Education (E.E.M.E.) and she has been head of its Piano Pedagogy Group from 2002 until 2006. She is a founder member and in charge of the music department of the Artistic and Intellectual Association of Egaleo, and also member of the Athens Institute for Education and Research (AT.IN.E.R.). She is an assessor for the Ministry of Labour with responsibility for the activities for human resources in the sphere of Culture, Sports and the Mass Media. Her oeuvre consists of nine books and dozens of articles in books and journals selected by critical committees.

Georgia G. Markea, 16 L. Kifisias, 11526, Athens, 00-30-6974765321, gmarkea@gmail.com

Read More......

Wednesday, September 23, 2009

Aku


Saya lahir pada tanggal 07 November 1981. Masa-masa kecil hingga remaja saya tempuh dengan pendidikan dari lingkungan keluarga yang memiliki pemahaman Sufi, sehingga spiritualitas menjadi dasar pola pikir dalam warna warni pendidikan yang saya peroleh.

Pernah kuliah di Perguruan Tinggi Teknokrat Lampung namun tidak selesai, dan diselesaikan di Sekolah Tinggi Teknik Nusantara Lampung pada tahun 2006, selain lingkungan keluarga pola pikir saya juga dipengaruhi oleh lingkungan organisasi Pecinta Alam Mapala Sharpa Kenaka Teknokrat.

Mendaki gunung, keluar masuk hutan adalah kegemaran saya. Kadang ujian semesteran kalah dengan acara pendakian, uang SKS kuliah terpotong untuk ongkos ekspedisi. Untuk sekedar melihat, mengenal dan belajar secara langsung dan lebih dekat dengan masyarakat agar bias mengenal, Budaya, Tradisi, Adat Istiadat dan Kekayaan Alam Indonesia secara nyata untuk mencintainya secara mendalam.

Sekarang saya aktif diberbagai organisasi diantaranya ketua harian Federasi Panjat Tebing Indonesia cabang Lampung Timur, Majelis Wilayah PBHI Lampung, dan demi keberlangsungan hidup saya gadaikan harta kebebasan saya kepada perusahaan yang ingin menggunakan jasa saya.

Read More......

Tuesday, September 22, 2009

Internet Bisa Tolong Mahasiswa Pemabuk Berat



Fino Yurio Kristo - detikinet
Newscastle - Sebagian mahasiswa perguruan tinggi terbiasa mengkonsumsi minuman keras dan akhirnya mabuk-mabukan. Berdasarkan riset baru, kebiasaan negatif ini kemungkinan dapat ditanggulangi dengan bantuan internet.

Para periset di University of Newcastle Australia dan University of Otago, Selandia Baru, melakukan tes pada lebih dari 7200 mahasiswa di Australia. Hasilnya cukup mencengangkan, lebih dari 2400 di antara mereka dikategorikan sebagai peminum berat.

Separuh dari para mahasiswa yang suka mabuk ini kemudian ditempatkan dalam grup pemulihan dan ditolong dengan campur tangan internet. Mereka mendapatkan motivasi dan umpan balik via web. Sedangkan separuh yang lain tidak mendapatkannya.

Dikutip detikINET dari USNews, Minggu (20/9/2009), bantuan via internet yang diberikan tersebut beragam, di antaranya adalah informasi mengenai risiko kesehatan, konsentrasi alkohol dalam darah, dan juga link untuk menolong mereka dari masalah kecanduan alkohol.

"Setelah satu bulan, partisipan yang dibantu dengan internet minum lebih jarang, kuantitasnya juga lebih kecil," demikian kesimpulan dari Kypros Kypri, periset yang membesut studi ini.

Berdasarkan hasil tersebut, medium internet dinyatakan punya potensi besar untuk membantu mahasiswa mengatasi kebiasaan mabuk mereka. ( fyk / sha )
Sumber :www.detik.com

Read More......
Oggix
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
KODE
free counter KODE END

Blog Archive

Followers