Custom Search

Saturday, October 3, 2009

Profil Wilayah
Language : Inggris

Kota Bandar Lampung pintu gerbang Pulau Sumatera. Sebutan ini layak untuk ibu kota
Propinsi Lampung. Kota yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sumatera ini
memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan. Letaknya di ujung Pulau
Sumatera berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian negara.
Kota ini menjadi pertemuan antara lintas tengah dan timur Sumatera. Kendaraan dari
daerah lain di Pulau Sumatera harus melewati Bandar Lampung bila menuju ke Pulau
Jawa. Pada umumnya kendaraan tersebut transit di terminal Rajabasa. Keluar dan
masuknya kendaraan baik bus, angkutan kota maupun minibus ke terminal ini, ternyata
mampu mendatangkan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) Kota
Bandar Lampung yang pada tahun anggaran 200 mencapai Rp 11,9 milyar. Angkutan
jalan raya mampu menyumbang Rp 273 milyar dari total kegiatan ekonomi tahun 2000.
Sumbangan lapangan usaha ini paling besar dibanding angkutan lain misalnya air.
Banyaknya kendaraan yang keluar masuk melewati Bandar Lampung ini menambah
padatnya jalan-jalan kota. Sejalan dengan perkembangan kota, kendaraan pribadi
maupun umum pun semakin menjamur, ditambah lagi dengan kendaraan pengangkut
hasil bumi dari pelosok daerah Propinsi Lampung yang akan dikirim ke Bandar
Lampung sebagai pusat perdagangan provinsi.

Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan daerah perkotaan yang terus berkembang
dari daerah tengah ke daerah pinggiran kota yang ditunjang fasilitas perhubungan dan
penerangan. Pengembangan kota ditandai dengan tumbuhnya kawasan permukiman,
namun demikian daerah pinggiran belum terlihat jelas ciri perkotaannya.
Pada tahun 2001 Kota Bandar Lampung dimekarkan dari 9 Kecamatan dan 84
kelurahan menjadi 13 kecamatan dan 98 kelurahan.

Orientasi Wilayah

Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20’-50º30’ LS dan
105º28’-105º37’ BT dengan luas wilayah 192.96 km2 dengan batas-batas sebagai
berikut :
o Batas Utara : Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan
o Batas Selatan : Kecamatan Padang Cermin, Ketibung dan Teluk Lampung,

Kabupaten Lampung Selatan
o Batas Timur : Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan
o Batas Barat : Kecamatan Gedungtataan dan Padang Cermin Kabupaten

Lampung Selatan
Kota Bandar Lampung berada di bagian selatan Propinsi Lampung (Teluk Lampung)
dan ujung selatan Pulau Sumatera.
Menurut kondisi topografi, Propinsi Lampung dapat dibagi ke dalam 5 (lima) satuan
ruang, yaitu:
o Daerah berbukit sampai bergunung, dengan ciri khas lereng-lereng yang curam
dengan kemiringan lebih dari 25% dan ketinggian rata-rata 300 meter dpl.
Daerah ini meliputi Bukit Barisan, kawasan berbukit di sebelah Timur Bukit
Barisan, serta Gunung Rajabasa.
o Daerah berombak sampai bergelombang, yang dicirikan oleh bukit-bukit sempit,
kemiringan antara 8% hingga 15%, dan ketinggian antara 300 meter sampai
500 meter dpl. Kawasan ini meliputi wilayah Gedong Tataan, Kedaton,
Sukoharjo, dan Pulau Panggung di Daerah Kabupaten Lampung Selatan, serta
Adirejo dan Bangunrejo di Daerah Kabupaten Lampung Tengah.
o Dataran alluvial, mencakup kawasan yang sangat luas meliputi Lampung
Tengah hingga mendekati pantai sebelah Timur. Ketinggian kawasan ini
berkisar antara 25 hingga 75 meter dpl., dengan kemiringan 0% hingga 3%.
Dataran rawa pasang surut di sepanjang pantai Timur dengan ketinggian 0,5 hingga 1
meter dpl. 5. Daerah aliran sungai, yaitu Tulang Bawang, Seputih, Sekampung,
Semangka, dan Way Jepara.

Dominasi penggunaan lahan berupa belukar dan area hutan seluas 17 ribu km2. Area
lahan sawah seluas 601 km2, perkebunan seluas 4.422 km2, sedangkan area
pemukiman seluas 3.113 km2.

Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
Masyarakat Lampung terdiri atas berbagai suku antara lain Lampung, Rawas, Melayu,
Pasemah dan Semendo. Masyarakat Lampung bentuknya yang asli memiliki struktur
hukum adat yang tersendiri, bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara
kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya, kelompok-kelompok tersebut
menyebar di berbagai tempat di daerah Lampung.

Penduduk pendatang yang menetap di Propinsi Lampung diperkirakan mencapai 84
%. Kelompok etnis terbesar adalah Jawa (30%), Banten/Sunda (20%), Minangkabau
(10%), Semendo (12 %). Kelompok etnis lain yang cukup banyak jumlahnnya adalah
Bali, Batak, Bengkulu, Bugis, China, Ambon, Aceh, Riau, dan lain-lain.

Banyaknya penduduk pendatang ini akibat adanya progam relokasi yang dilakukan
sejak tahun 1905 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan memindahkan petani dari
Bagelan Jawa Tengah dan membangun Kota Wonosobo dan Kota Agung. Kemudian
tahun 1932 – 1937 ada pembukaan lahan transmigrasi baru di Kota Metro, Pringsewu,
dan berbagai kota lainnya. Program transmigrasi ini terus berlangsung hingga akhir
dekade 80-an.

Karakteristik mata pencaharian penduduk pendatang pada umumnya memiliki
kekhasan dalam beradaptasi. Sebagai contoh pendatang asal Pati – Jawa Tengah
yang semula sebagai petambak lebih memilih usaha tambak di lokasi barunya. Semula
mereka berbudidaya bandeng dan jenis ikan lainnya, tetapi seiring dengan
perkembangan tren budidaya udang windu mereka beralih ke jenis yang lebih
menguntungkan ini ditambah lagi dengan dukungan dari pihak pemberi modal.
Demikian pula dengan pendatang dari etnis Bugis yang terkenal sebagai pelaut lebih
memilih menjadi nelayan. Pendatang dari Jawa yang semula petani lebih memilih
usaha di bidang pertanian dan perkebunan.

Pariwisata

Dibidang pariwisata Kota Bandar Lampung memiliki beberapa objek yang patut dikunjungi

1. Pasir Putih
2. Musium Lampung
3. Wisata Desa Pekon Ujung
4. Taman Wisata Alam Bukit Kedaton

Comments :

0 comments to “ ”


Post a Comment